Musim Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perbankan segera tiba. Pemberitahuan pembagian dividen menjadi hal yang tersebut paling dinanti para penanam modal sebelum mengambil langkah investasinya.
Terdekat, ada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang akan mengadakan RUPST 2025 pada 12 Maret 2025 mendatang. Dalam salah satu agendanya, RUPST akan memutuskan pemanfaatan laba bersih BCA di tempat 2024 yang tersebut salah satunya untuk digunakan sebagai dividen tunai.
Ketika dihubungi Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja belum mau mengungkapkan berapa dividen final yang digunakan akan dibagikan oleh bank swasta terbesar tanah air ini.
“Secara official akan diberitahukan tanggal 12 Maret besok pada pada waktu RUPS,” ujar Jahja singkat, Awal Minggu (10/3).
Terakhir, BCA telah lama membagikan dividen sementara tunai sebesar Mata Uang Rupiah 6,16 triliun untuk tahun buku yang tersebut berakhir pada tanggal 31 Desember 2024. Jumlahnya meningkat 18% dibandingkan periode sejenis tahun sebelumnya.
Saat public expose pada awal tahun ini, Jahja sempat memberi sinyal bahwa pembagian dividen tahun ini dapat lebih banyak besar dari tahun sebelumnya. Ia pernah berjanji untuk para investor, bahwa dividen yang mana dibayar BCA absolutnya itu harus tambahan tinggi setiap tahun.
Ia bilang janji yang disebutkan tak bisa jadi ditepati ketika pandemi pandemi Covid-19 pada 2020 lalu. Di mana, laba bersih BCA kala itu semata juga mengalami koreksi sekitar 5%. Kata itu, dalam tahun 2024, laba bersih BCA berkembang 12,7% YoY atau senilai Simbol Rupiah 54,8 triliun.
“Ini akan ditentukan nanti pada RUPS. Jadi, saya enggak berani menjanjikan apakah ini akan lebih tinggi atau kurang,” ucapannya kala itu.
Disisi lain, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga sudah pernah memberikan kisi-kisi dividen pada materi mata acara RUPST 2025 yang mana ditayangkan di area situs resminya. Dalam dokumen tersebut, manajemen berencana membagikan rasio dividen minimal 85%.
“Perseroan bermaksud membagikan dividen dengan payout ratio sekurang-kurangnya sebesar 85% (termasuk dividen pengganti yang dimaksud sudah pernah dibayarkan) dengan mempertimbangkan kinerja perseroan yang dimaksud baik lalu kondisi permodalan yang kuat,” tulis manajemen pada dokumen tersebut.
Pada 15 Januari 2025 lalu, bank yang tersebut akrab dengan wong ciliki ini sudah pernah membagikan dividen pengganti sebesar Simbol Rupiah 135 per saham atau sebesar Simbol Rupiah 20,33 Trilyun serta akan diperhitungkan sebagai bagian dari dividen Tahun Buku 2024.
Head of Proprietary Investment Mirae Asset Handiman Soetoyo mengungkapkan pihaknya ketika ini cenderung konservatif pada melakukan estimasi rasio dividen seperti tahun lalu. Di mana, itu mempertimbangkan hasil kinerja beberapa bank di area tahun 2024.
Berdasarkan hitung-hitungannya, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) serta BBRI akan segera menjadi yang dimaksud paling tinggi jikalau dilihat secara dividen yield. Handyman mengawasi dua bank ini bisa saja memberikan dividen yield setidaknya pada kisaran 9%.
Sementara itu, ada empat bank yang berpotensi memberikan dividen yield di kisaran 6% hingga 7%. Mereka adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS), juga PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP).
Hanya saja, Handiman tak menyarakan bagi penanam modal untuk menjadi dividend hunter secara jangka pendek. Alasannya, beberapa bank sudah rally cukup tinggi seminggu ini serta itu sangat besar risiko terkena dividend trap.
“Bagi penanam modal jangka panjang sanggup melakukan akumulasi khususnya BNGA, BBRI, BBNI, BMRI, juga NISP,” ujar Handiman.
Sementara itu, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo Indy Naila berpandangan rasio dividen akan stabil pada tahun buku 2024. Bahkan, ia mengamati ada prospek mengalami penurunan oleh sebab itu terlihat bahwa kondisi peningkatan kredit perbankan melemah di area akhir tahun 2024.
Tak terpencil berbeda dengan Handiman, Indy pun mengamati ada beberapa bank yang digunakan memang sebenarnya dapat memberikan dividen yield besar sekitar 7%. Bank-bank yang disebutkan adalah, BMRI, BNGA, BBRI, BBNI, lalu PT BPD Jawa Barat kemudian Banten Tbk (BJBR).
“Dividen ini memang benar menarik untuk para pemodal akibat kendati mungkin saja tiada dapat dengan segera menghentikan capital loss dari saham namun masih mendapatkan dividen,” ujar Indy.
Sementara itu, Indy mengawasi dividen dari BBCA justru secara historis bukan menarik untuk mengejar dividen yang dia bagikan. Bukan tanpa alasan, dividen yield BCA secara historis berada di area kisaran 2%.
“BBCA kurang menarik menurut saya oleh sebab itu yield-nya kecil,” tandasnya.











