Tentu saja kita terus melakukan koordinasi Di para nasabah kita Bagi melihat bagaimana Kebugaran daripada para nasabah Pada ini
Jakarta (Di) – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memperkuat monitoring debitur Di sektor terdampak guna memastikan Mutu kredit tetap terjaga Di Ditengah konflik Timur Ditengah dan ketidakpastian Dunia.
Wakil Kepala Negara Direktur BCA John Kosasih menyebutkan, salah satu sektor yang mulai terdampak adalah industri plastik seiring Fluktuasi Harga bahan baku yang dipicu lonjakan harga Energi Dunia.
“Tentu saja kita terus melakukan koordinasi Di para nasabah kita Bagi melihat bagaimana Kebugaran daripada para nasabah Pada ini. Dan tentu saja kita juga menanyakan bagaimana mitigasi yang Akansegera dilakukan Di para nasabah,” kata John menjawab pertanyaan media Di konferensi pers Di Jakarta, Kamis.
John menambahkan bahwa Sampai Sekarang risiko masih terjaga Di baik dan para nasabah tetap menjalankan usaha secara normal Supaya pihaknya Akansegera terus Menyimak perkembangan Kebugaran tersebut.
Yang Berhubungan Di dampaknya kepada kinerja kredit korporasi Ke Di, ia menilai lonjakan harga Barang Dagangan terutama energi sebenarnya telah diantisipasi Di para debitur Sebelum awal.
Menurutnya, Kebugaran Dunia yang dipenuhi ketidakpastian membuat para nasabah telah bersiap Berusaha Mengatasi berbagai kemungkinan Supaya dampaknya tidak terjadi secara tiba-tiba.
Lantaran itu, ujar John, BCA terus memperkuat koordinasi Di nasabah guna menjaga kesiapan Di Menantikan berbagai risiko yang Bisa Jadi muncul.
Yang Berhubungan Di pelemahan Nilai Mata Uang Kurs Matauang Nasional, John menyebutkan bahwa eksposur kredit valas masih relatif kecil yakni Disekitar 4,9 persen Di total portofolio BCA Supaya kondisinya tetap terjaga.
Karenanya, pelemahan Kurs Matauang Nasional dinilai tidak Menyediakan dampak signifikan. Justru, menurut John, dapat menguntungkan Bagi nasabah yang berorientasi Penjualan Barang Ke Luar Negeri meski pelaku usaha tetap mengharapkan stabilitas Nilai Mata Uang.
Di Pada Yang Sama, Direktur BCA Subur Tan memastikan bahwa perseroan juga telah melakukan stress test sesuai anjuran regulator dan hasilnya dinilai masih cukup positif.
Subur menyebutkan bahwa Di sisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) berada Di kisaran yang jauh Di atas Syarat minimal, Sambil Itu rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga yakni berada Di level 1,8 persen per Maret 2026.
Yang Berhubungan Di potensi kenaikan NPL Ke Di, ia memandang masih terlalu dini Bagi disimpulkan Tetapi perseroan tetap Self-Esteem dapat menjaga Mutu kredit Di baik.
Di sisi lain, Subur mengakui terdapat sedikit peningkatan Di loan at risk (LAR), Tetapi kondisinya masih sangat terkendali dan didukung Di pencadangan yang memadai.
Per akhir Maret 2026, total kredit BCA tumbuh sebesar 5,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) mencapai Rp994 triliun.
Berdasarkan segmennya, kredit korporasi tumbuh 9,1 persen (yoy) mencapai Rp483,8 triliun. Adapun kredit komersial tumbuh 5,7 persen (yoy) mencapai Rp145,2 triliun.
Kredit korporasi menempati porsi terbesar Di BCA Di porsi sebesar 48,7 persen Di total kredit. Sambil Itu porsi kredit komersial sebesar 15,6 persen Di total kredit.
Secara sektoral, kredit Produksi mencapai Rp213,7 triliun (tumbuh 2,7 persen yoy), diikuti sektor perdagangan sebesar Rp195,1 triliun (tumbuh 3,6 persen yoy).
Rasio loan at risk (LAR) dan non performing loan (NPL) BCA terjaga, masing-masing 5,1 persen dan 1,8 persen. Sambil Itu rasio pencadangan LAR dan NPL berada Di level solid, masing-masing 69,7 persen dan 174,6 persen.
Baca juga: Laba konsolidasi BCA capai Rp14,7 triliun Di kuartal I 2026
Baca juga: Survei Banksentral: Penyaluran kredit Mutakhir Di triwulan I 2026 tetap tumbuh
Baca juga: BRI siap pacu kredit 2026, didukung kuatnya likuiditas dan permodalan
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © Di 2026
Dilarang keras Memutuskan konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis Bagi AI Di situs web ini tanpa izin tertulis Di Kantor Berita Di.
Artikel ini disadur –> Ântaranews.com Indonesia News: BCA monitor debitur terdampak Di Ditengah dinamika Dunia











