Efek pengganda belanja pemerintah Di triwulan I 2026 cukup kuat Lantaran jenis belanjanya langsung menyentuh pendapatan dan permintaan domestik
Jakarta (Di) – Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede Mengungkapkan efek pengganda (multiplier effect) Bersama kegiatan belanja pemerintah Di triwulan I 2026 Memberi pengaruh langsung Di permintaan domestik.
“Efek pengganda belanja pemerintah Di triwulan I 2026 cukup kuat Lantaran jenis belanjanya langsung menyentuh pendapatan dan permintaan domestik,” ujar Josua Pardede Di dihubungi Di Bersama Jakarta, Jumat.
Ia menuturkan jenis belanja pemerintah Di Januari- Maret 2026 bisa berdampak langsung Di permintaan domestik Lantaran disalurkan Untuk bentuk pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) Sebagai ASN, TNI, Polri dan pensiunan.
Hal tersebut Meningkatkan pendapatan siap belanja yang dimiliki Kelompok, Supaya Mendorong konsumsi Rumah tangga Di Ramadhan dan Idul Fitri.
Josua Mengungkapkan bahwa belanja pemerintah juga direalisasikan Lewat Langkah Makan Bergizi Gratis (MBG) yang Mendorong permintaan Di rantai Ketahanan Pangan, katering, Ekspedisi, Agrikultur, peternakan, perikanan, serta usaha kecil Di Di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Baca juga: Ekonom: Tekanan Kurs Mata Uang Nasional dan harga Energi bisa tambah defisit Rp200 T
Baca juga: PIER nilai konsumsi domestik tetap Karena Itu penopang utama ekonomi RI
Terdapat pula pemberian Dukungan sosial, seperti Dukungan Ketahanan Pangan Non-Tunai (BPNT atau Kartu Sembako) serta Dukungan Iuran Jaminan Kesejajaran Nasional (JKN), yang menjaga daya beli kelompok rentan dan menahan pelemahan konsumsi.
Di Samping Itu, belanja pemerintah juga digunakan sebagai modal Sebagai pembangunan jalan, irigasi dan jaringan komunikasi serta pengadaan peralatan dan mesin produksi yang Memberi dorongan Di sektor konstruksi, bahan bangunan, perdagangan, angkutan, hingga industri pengolahan.
“Lantaran itu, dampaknya tidak berhenti Di angka konsumsi pemerintah, tetapi menyebar Hingga konsumsi Rumah tangga yang tumbuh 5,52 persen, Penanaman Modal yang tumbuh 5,96 persen dan Karya produksi Di beberapa sektor utama,” katanya.
Josua menuturkan peningkatan Karya belanja pemerintah Di triwulan berhubungan erat Bersama kenaikan pengeluaran konsumsi pemerintah Di periode tersebut, sebagaimana yang tercermin Untuk perhitungan Kemajuan ekonomi triwulan I 2026.
Ia mengatakan Asosiasi Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mencatat realisasi belanja Negeri triwulan I 2026 mencapai Rp815,0 triliun atau tumbuh 31,4 persen yoy, terdiri Bersama belanja pusat Rp610,3 triliun dan Peralihan Hingga Area Rp204,8 triliun.
Sambil Itu Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kenaikan pengeluaran konsumsi pemerintah Untuk Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 21,81 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Ia menyampaikan bahwa kenaikan belanja pemerintah tersebut membantu perekonomian nasional tumbuh 5,61 persen yoy Lewat dua cara.
Pertama, secara langsung, yaitu belanja pemerintah masuk sebagai salah satu komponen PDB. Kedua, secara tidak langsung, yaitu belanja pemerintah Mendorong pendapatan Rumah tangga, permintaan Produk Internasional dan jasa, belanja ritel, Ekspedisi, konstruksi, serta kegiatan usaha pemasok pemerintah.
“Bersama pangsa konsumsi pemerintah Di 6-7 persen Di PDB dan Kemajuan 21,81 persen, kontribusi langsungnya Di Kemajuan dapat diperkirakan Di 1,3 Skor persentase, Sebelumnya memperhitungkan efek lanjutan Hingga konsumsi Rumah tangga dan Penanaman Modal,” jelas Josua.
Baca juga: Ekonom nilai Kurs Mata Uang Nasional tembus Rp17.500 dipicu tekanan Dunia dan domestik
Baca juga: Ekonom: Kemajuan ekonomi triwulan I 2026 didorong faktor musiman
Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Agus Salim
Copyright © Di 2026
Dilarang keras Membahas konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis Sebagai AI Di situs web ini tanpa izin tertulis Bersama Kantor Berita Di.
Artikel ini disadur –> Ântaranews.com Indonesia News: Ekonom sebut belanja pemerintah pengaruhi langsung permintaan domestik











