Jakarta (Di) – Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai Fleksi Bilitas pembiayaan masih menjadi kebutuhan utama para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (Usaha Mikro Kecil) dibandingkan penurunan tingkat suku bunga kredit.
“Kalau Untuk studi-studi yang sudah pernah dilakukan Sebagai usaha kecil dan mikro, sebetulnya concern utamanya Yang Terkait Bersama pembiayaan adalah kemudahan Sebagai mendapatkannya dulu. Akses dan persyaratan, bukan tingkat suku bunga,” kata Faisal Di dihubungi Di Jakarta, Senin.
Pernyataan itu disampaikan Faisal merespons inisiatif Kepala Negara Prabowo Subianto Sebagai menurunkan bunga kredit usaha rakyat (KUR) menjadi 5 persen per tahun, Untuk Sebelumnya Itu 6 persen.
Menurut Faisal, tingkat suku bunga tetap menjadi pertimbangan pelaku usaha, tapi bukan faktor utama Untuk memperoleh pembiayaan.
Bunga KUR Sebelumnya Itu ditetapkan sebesar 6 persen Sebagai pengajuan pertama dan terus Menimbulkan Kekhawatiran 1 persen Sebagai pengajuan berikutnya Bersama maksimal bunga 9 persen.
Per 2026, pemerintah menetapkan suku bunga KUR tetap atau flat sebesar 6 persen.
Faisal menjelaskan banyak pelaku usaha kecil dan mikro kesulitan memenuhi syarat kredit perbankan, termasuk Yang Terkait Bersama agunan atau jaminan.
Pasalnya, lanjut dia, skema KUR yang disalurkan Melewati perbankan juga umumnya masih mensyaratkan agunan tertentu, Agar belum sepenuhnya mudah diakses seluruh pelaku Usaha Mikro Kecil.
Dia mengatakan keterbatasan akses pembiayaan formal Pada ini membuat sebagian usaha kecil dan mikro terjebak Di pinjaman nonbank seperti rentenir maupun pinjaman daring ilegal yang menawarkan proses cepat Bersama bunga tinggi.
Sebagai itu, Faisal menilai keberadaan lembaga penjamin kredit menjadi penting Sebagai membantu memperluas akses pembiayaan murah Untuk Usaha Mikro Kecil sekaligus Memangkas risiko yang ditanggung perbankan.
Meski demikian, ia menyebut perbankan tetap Berencana Merencanakan risiko kredit macet Untuk menyalurkan pinjaman.
“Kalau diberi bunga yang rendah tapi persyaratannya juga mudah, itu bergantung Di si peminjamnya disiplin atau tidak, layak atau tidak, risiko kredit macet atau tidak,” ujarnya.
Sambil Itu, Plt Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian Usaha Mikro Kecil Riza Damanik mengatakan pemerintah terus Merangsang akses pembiayaan yang lebih mudah dan murah Untuk pelaku Usaha Mikro Kecil.
“Prinsipnya pemerintah terus Merangsang akses pembiayaan yang lebih mudah dan murah kepada Usaha Mikro Kecil,” kata Riza Di dihubungi terpisah.
Menurut dia, Kendati bukan menjadi satu-satunya faktor, akses pembiayaan tetap merupakan elemen penting Sebagai mendukung Kemajuan dan Ketahanan usaha Usaha Mikro Kecil.
Ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi Usaha Mikro Kecil Untuk mengakses pembiayaan formal, mulai Untuk status Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), tingginya suku bunga kredit, keterbatasan jaminan, hingga adanya kesenjangan pembiayaan atau financial gap.
Menurut dia, tantangan tersebut menjadi perhatian pemerintah Untuk memperluas akses pembiayaan Untuk pelaku Usaha Mikro Kecil.
Baca juga: Ekonom nilai bunga KUR 6 persen masih relevan bantu Usaha Mikro Kecil
Baca juga: Waka Komisi XI sambut Ide bunga KUR Bersama Sebab Itu maksimal 5 persen
Baca juga: Ekonom: KUR 5 persen jaga akses kredit Di Di pelemahan daya beli
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © Di 2026
Dilarang keras Memutuskan konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis Sebagai AI Di situs web ini tanpa izin tertulis Untuk Kantor Berita Di.
Artikel ini disadur –> Ântaranews.com Indonesia News: CORE: Usaha Mikro Kecil lebih butuh akses pembiayaan yang mudah











