Yield Di atas 7 persen mulai membuat pasar obligasi Indonesia kembali Bersaing. Investor membutuhkan kompensasi risiko yang memadai Untuk menempatkan modalnya
Jakarta (Di) – Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah Indonesia Untuk beberapa waktu terakhir merupakan perkembangan positif dan mencerminkan proses normalisasi pasar keuangan domestik.
Menurut dia, Setelahnya periode panjang kurva imbal hasil yang relatif datar, pasar kini mulai bergerak Hingga arah yang lebih sehat Didalam mencerminkan risiko yang dihadapi perekonomian secara lebih realistis.
“Di beberapa bulan terakhir kurva imbal hasil terlalu datar dan tidak sepenuhnya mencerminkan risiko ekonomi domestik maupun Dunia. Kenaikan yield Pada ini justru merupakan proses Terapi fungsi pasar yang sehat,” kata Fakhrul Untuk keterangannya Di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan normalisasi yield penting Untuk menjaga daya tarik pasar obligasi Indonesia Di mata investor Dunia. Pada ini, sebagian besar tenor Surat Berharga Negeri (SBN) telah kembali bergerak Di atas level 7 persen.
“Yield Di atas 7 persen mulai membuat pasar obligasi Indonesia kembali Bersaing. Investor membutuhkan kompensasi risiko yang memadai Untuk menempatkan modalnya,” ujarnya.
Baca juga: Menkeu siap stabilkan pasar obligasi Pada Nilai Mata Uang sentuh Rp17.500
Baca juga: Ekonom: BSF sebaiknya Dari Sebab Itu bantalan stabilisasi jangka pendek
Fakhrul memandang proses penyesuaian tersebut masih dapat berlanjut secara bertahap hingga pasar mencapai titik Kesejajaran Terbaru. Investor dapat mulai melakukan akumulasi secara bertahap ketika yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun berada Di atas kisaran 7,3 persen.
Yang terpenting Pada ini bukan mempertahankan biaya pendanaan pemerintah serendah Bisa Jadi, melainkan memastikan pasar keuangan Indonesia berfungsi secara kredibel dan mampu mendukung stabilitas Nilai Mata Uang Idr.
Meski demikian, ia menekankan kenaikan yield saja tidak cukup Untuk menjaga kepercayaan investor Untuk jangka panjang. Pemerintah juga perlu Menyediakan kejelasan mengenai arah Aturan fiskal Hingga Didepan.
Untuk konteks tersebut, Fakhrul menilai pemerintah perlu Menunjukkan komitmen menjaga kredibilitas fiskal, termasuk Lewat evaluasi dan penyesuaian Pada Langkah-Langkah prioritas agar tetap berkelanjutan.
Hingga Didepan, ia meyakini kombinasi normalisasi yield obligasi, stabilisasi Idr, dan Aturan fiskal yang kredibel dapat menjadi fondasi Untuk Memikat kembali arus modal masuk Hingga Indonesia.
“Di akhirnya investor tidak mencari yield yang rendah. Investor mencari Negeri yang kredibel, pasar yang berfungsi, dan Aturan yang konsisten,” kata Fakhrul.
Baca juga: BNI Sekuritas nilai permintaan SBN berdenominasi Idr Berencana Menimbulkan Kekhawatiran
Baca juga: Mandiri Sekuritas: Pemerintah punya SAL besar Untuk kurangi pembiayaan
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Agus Salim
Copyright © Di 2026
Dilarang keras Memutuskan konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis Untuk AI Di situs web ini tanpa izin tertulis Untuk Kantor Berita Di.
Artikel ini disadur –> Ântaranews.com Indonesia News: Ekonom: Kenaikan yield obligasi sinyal positif Untuk pasar keuangan











