Data Perkembangan ekonomi menurut saya tetap mencerminkan Situasi riil secara agregat
Jakarta (Di) – Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai, Perkembangan ekonomi Indonesia Ke triwulan I 2026 lebih banyak didorong Dari faktor musiman Ke awal tahun.
Ia menjelaskan, kinerja ekonomi Ke periode tersebut ditopang Dari efek basis rendah, peningkatan permintaan Di Ramadhan dan Idul Fitri, serta percepatan belanja pemerintah, termasuk Inisiatif Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Lantaran itu angkanya kuat, tetapi sebagian kekuatannya bersifat musiman dan ditopang fiskal, bukan semata-mata mencerminkan kenaikan daya dorong ekonomi yang merata,” kata Josua kepada Di Ke Jakarta, Rabu.
Data Perkembangan ekonomi secara agregat memang dinilai mencerminkan Kegiatan Peningkatan Ekonomi, Tetapi belum tentu menggambarkan Situasi yang dirasakan seluruh lapisan Kelompok maupun sektor usaha.
“Data Perkembangan ekonomi menurut saya tetap mencerminkan Situasi riil secara agregat, tetapi belum tentu mencerminkan Situasi yang dirasakan seluruh kelompok Kelompok dan seluruh sektor usaha,” tuturnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Perkembangan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) Ke triwulan I 2026, Sambil secara triwulanan (quarter-to-quarter/qtq) terkontraksi 0,77 persen.
Bersama sisi pengeluaran, konsumsi Tempattinggal tangga masih menjadi penyumbang utama Bersama kontribusi sebesar 2,94 persen, diikuti Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 1,79 persen, serta konsumsi pemerintah 1,26 persen.
Josua merinci, secara statistik Kegiatan ekonomi memang Menimbulkan Kekhawatiran, tercermin Bersama konsumsi Tempattinggal tangga yang tumbuh 5,52 persen, PMTB 5,96 persen, serta konsumsi pemerintah yang melonjak 21,81 persen.
Meski demikian, Situasi Ke lapangan dinilai lebih beragam. Konsumsi Tempattinggal tangga terbantu momentum musiman, tetapi tekanan harga, pelemahan Nilai Mata Uang Nasional, dan kenaikan biaya energi mulai membebani daya beli Kelompok dan dunia usaha.
Ia juga menyoroti indikator sektor Pabrik Ke April yang Menunjukkan pelemahan, Di lain tercermin Bersama Purchasing Managers’ Index (PMI) Pabrik yang turun Ke level 49,1, produksi yang menyusut paling cepat Dari Mei 2025, serta tekanan biaya bahan baku yang Menimbulkan Kekhawatiran Ke level tertinggi Di empat tahun.
“Dari Sebab Itu, data PDB benar menggambarkan total Kegiatan ekonomi, tetapi belum sepenuhnya Menyita ketimpangan Penghayatan Ke lapangan, terutama Di sektor yang didorong belanja pemerintah dan sektor yang tertekan biaya produksi,” jelasnya.
Menurut Josua, peran konsumsi Tempattinggal tangga dan PMTB sebagai penopang utama Perkembangan tetap relevan.
Tercermin Bersama konsumsi Tempattinggal tangga yang Menimbulkan Kekhawatiran Bersama 5,11 persen Ke triwulan IV 2025 menjadi 5,52 persen Ke triwulan I 2026, didorong Dari belanja Minuman, transportasi, komunikasi, serta sektor restoran dan hotel Di periode Ramadhan dan Idul Fitri.
Sambil Itu, PMTB tetap tumbuh solid sebesar 5,96 persen, Walaupun sedikit melambat Bersama 6,12 persen Ke triwulan Sebelumnya.
Lebih Jelas, ia juga mengamini bahwa Inisiatif MBG dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) turut berkontribusi Pada Perkembangan, khususnya Lewat peningkatan Penanaman Modal Di Negeri bangunan dan struktur yang naik Bersama 3,74 persen menjadi 5,29 persen.
“Dari Sebab Itu, sangat relevan bila MBG dan Kopdes Merah Putih disebut ikut Merangsang konstruksi dan PMTB, Lantaran Inisiatif tersebut membutuhkan dapur, gudang, fasilitas distribusi, bangunan pendukung, peralatan, dan jaringan Pengiriman,” terang dia.
Meski demikian, kontribusi kedua Inisiatif tersebut dinilai perlu ditempatkan secara proporsional. Sebab, PMTB secara keseluruhan masih sangat dipengaruhi Dari proyek infrastruktur, Penanaman Modal Di Negeri swasta, pembangunan properti, serta pengadaan mesin dan alat angkut.
Penanaman Modal Di Negeri mesin dan perlengkapan justru melambat Bersama 22,16 persen menjadi 10,78 persen, yang kemungkinan dipengaruhi Dari perlambatan Kegiatan Pabrik Di periode libur panjang.
Maka Bersama itu, dampak Inisiatif tersebut perlu dilihat keberlanjutannya.
“Apakah fasilitas yang dibangun benar-benar produktif, Meningkatkan permintaan bahan lokal, menyerap tenaga kerja, dan tidak hanya menaikkan belanja sesaat,” tutupnya.
Baca juga: Ekonom memproyeksikan Mei 2025 bakal catat deflasi
Baca juga: Deflasi 0,37 persen, ekonom nilai daya beli Kelompok belum pulih
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © Di 2026
Dilarang keras Memutuskan konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis Untuk AI Ke situs web ini tanpa izin tertulis Bersama Kantor Berita Di.
Artikel ini disadur –> Ântaranews.com Indonesia News: Ekonom: Perkembangan ekonomi triwulan I 2026 didorong faktor musiman











