Unit usaha syariah (UUS) beberapa perbankan terus mencatatkan perkembangan aset hingga 2024 lalu. Di berada dalam peningkatan aset itu, regulator menyokong agar UUS menjalankan pemisahan atau spin off menjadi bank umum syariah (BUS).
UUS Bank CIMB Niaga atau CIMB Niaga Syariah misalnya, mencatatkan total aset mencapai Rupiah 67,50 triliun pada 2024, naik 7,58% secara tahunan atau year on year (yoy) dibandingkan periode yang dimaksud identik tahun sebelumnya dengan aset Rupiah 62,74 triliun. Lalu ada UUS Bank BTN, yang mana pada 2024 asetnya bertambah 11,55% yoy menjadi Rupiah 60,56 triliun.
Kemudian, aset UUS Maybank Indonesia meningkat 4,69% yoy menjadi Rupiah 42,96 triliun pada 2024. Aset UUS Bank Danamon juga bertambah 13,65% yoy pada 2024 menjadi Rupiah 14,23 triliun. Selain itu, aset UUS Bank OCBC NISP naik 20,39% menjadi Simbol Rupiah 11,01 triliun pada 2024.
Di sisi lain, aset UUS Bank Permata pada 2024 lalu tercatat susut 2,42% menjadi Simbol Rupiah 37,40 triliun. Padahal di dalam periode sebanding tahun sebelumnya mencapai Mata Uang Rupiah 38,33 triliun.
Seiring dengan peningkatan aset sebagian UUS bank tersebut, terdapat dorongan agar UUS menjalankan spin off menjadi BUS. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memang sebenarnya sudah menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 12 Tahun 2023 tentang Unit Usaha Syariah (POJK UUS) pada tahun lalu.
Mengacu Pasal 59 POJK UUS, bank yang tersebut memiliki UUS dengan nilai aset mencapai porsi 50% terhadap total nilai aset induknya dan/atau jumlah agregat aset UUS paling sedikit Rupiah 50 triliun wajib melakukan pemisahan UUS dengan tahapan tertentu. Pemisahan juga diadakan dengan memperhatikan kinerja bidang jasa keuangan yang efisien, sehat, kemudian berkelanjutan.
Sebagaimana diketahui, bank yang mana sudah memenuhi ketentuan spin off adalah CIMB Niaga Syariah dan juga BTN Syariah pada mana asetnya mencapai lebih lanjut dari Rupiah 50 triliun, mengacu aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Direktur Syariah CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara menyampaikan, salah satu yang mana menjadi pendorong perkembangan aset akibat pihaknya fokus mengupayakan pertumbuhan pembiayaan yang pada akhirnya mendongkrak peningkatan aset.
Adapun pada menggenjot perkembangan aset, pihaknya akan menggenjot lebih besar banyak dari sisi pinjaman, baik dari sisi korporasi maupun mortgage-nya.
“Selain itu kita akan tambahan sejumlah fokus dari sisi pendanaan ke CASA,” ungkap Pandji untuk kontan.co.id.
Adapun ketika ini pihaknya sedang di proses mengurus perizinan yang mana berkaitan dengan peralihan status UUS menjadi bank umum syariah (BUS) sekaligus menganalisa model industri ketika transisi dari UUS menjadi BUS.
“Kita sedang melakukan analisis apa yang digunakan sekarang kita lakukan kemudian apa yang tersebut akan terjadi nanti pasca kita berubah. Selain itu, kita juga sedang mengamati apakah model yang tersebut kita lakukan sekarang ini adalah yang digunakan paling bagus, lalu apakah kita nanti setelahnya spin off akan fokus terhadap misalnya segmen konsumer, nah itu yang dimaksud sedang kita pikirkan,” jelasnya.
Ia menjelaskan alasan CIMB Niaga Syariah mendirikan perusahaan baru daripada melakukan pengambilalihan lantaran kecukupan aset yang dimaksud sudah ada mumpuni kemudian proses mendirikan perusahaan baru yang tersebut justru lebih tinggi simpel dibandingkan dengan harus melalui akuisisi.
“Kita nanti akan mendirikan perusahaan baru akibat modal kita itu cukup untuk modal KBMI 2 lah. Jadi rasanya kita secara infrastruktur pas spin-off nanti juga akan menggunakan infrastrukturnya Induk, yakni Bank CIMB Niaga. Jadi kita tidak ada perlu untuk beli bank lain, serta dikarenakan modalnya sudah ada cukup besar lntuk sanggup berdiri sendiri,” tegasnya.
Walau demikian, Pandji mengaku tidaklah menghentikan kemungkinan jikalau ada opportunity di area luar, misalnya dengan membeli bank lain atau berjalan dengan yang lain.
“Kita setiap saat membuka opsi, tapi kalau ditanya fokusnya apa? Ya kita berdiri sendiri dulu sekarang,” imbuhnya.
Pandji mengatakan, spin off ini ditargetkan akan rampung pada kuartal pertama di area 2026.
Sementara Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, pertumbuhan industri syariah BTN yang mana pesat selama tahun 2024 menjadi modal yang digunakan kuat bagi unit usaha syariah BTN pada persiapannya menjadi entitas bank syariah baru.
“Kami optimistis BTN Syariah akan menjadi pesaing kuat pada lapangan usaha perbankan syariah dengan expertise-nya di area bidang pembiayaan perumahan berbasis syariah,” katanya.
Sebelumnya, pada 20 Januari 2025, BTN mengumumkan pembelian Bank Umum Syariah PT Bank Victoria Syariah, (BVIS).
Akuisisi ini dilaksanakan sebagai bagian dari rencana BTN melakukan pemisahaan Unit Usaha. Rencananya setelahnya pembelian ini, BTN membentuk Bank Umum Syariah baru. Kehahadiran Bank Umum Syariah yang baru ini diharapkan akan menimbulkan persaingan antarbank syariah di dalam Indonesia makin sehat.
Selain itu, dengan pemisahan UUS Syariah ini akan menjadi motor penggerak segmen syariah dan juga sebagai pelengkap sektor perbankan seperti PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS).
Nixon memperkirakan, usai penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang akan diadakan pada akhir Maret 2025 maka segera dijalankan spin off. Lebih lanjut Nixon mengatakan, pergantian nama perusahaan akan dijalankan pasca proses pembelian selesai. Nantinya, aset BTN Syariah akan dialihkan ke BVIS yang digunakan sudah ada dimiliki BTN.
“Nanti namanya kita ganti, namanya juga kita mau usulin ke pemerintah. Belum boleh dikasih tau dulu. Kalau sudah ada beli baru boleh kita ganti nama,” ucapnya.
Di sisi lain, Bank Permata menegaskan bahwa hingga ketika ini belum ada rencana untuk melakukan spin-off UUS.
Direktur Unit Usaha Syariah Permata Bank, Rudy Basyir Ahmad, menyatakan bahwa bilangan ini masih terpencil dari ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang mana mewajibkan bank melakukan spin-off jikalau aset UUS telah lama mencapai Mata Uang Rupiah 50 triliun.
“Jadi masih cukup jarak jauh dibandingkan dengan threshold Mata Uang Rupiah 50 triliun. Hingga ketika ini, belum ada pembahasan mengenai rencana spin-off ataupun pencarian penanam modal untuk UUS Permata Bank,” ungkap Rudy.
Rudy menegaskan bahwa ketika ini Permata Bank lebih tinggi fokus pada strategi pivoting juga pengembangan dana tidak mahal dalam semua segmen, baik korporasi, konsumer, maupun komersial.
“Ke depan, pivoting juga akan difokuskan pada pertumbuhan segmen perorangan di tempat sektor-sektor di dalam luar KPR, seperti pembiayaan juga komersial. Hal ini menjadi salah satu strategi utama kami,” jelasnya.
Selain itu, Permata Bank terus meningkatkan penetrasi pangsa dengan mengembangkan teknologi digital, baik untuk pelanggan perorangan maupun korporasi.
“Untuk mengupayakan perkembangan pasar, kami juga akan terus fokus pada pengembangan teknologi, teristimewa digital channel, baik untuk klien individu melalui PermataMe maupun untuk korporasi,” imbuhnya.
Aset UUS Maybank Indonesia juga terlihat telah mulai mendekati ketentuan OJK. Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan pun memproyeksikan spin off UUS akan dicapai pada dua hingga tiga tahun mendatang.
“Kami sudah ada mulai melakukan asesmen, artinya sudah ada mulai mengawasi kemudian mempersiapkan,” ujar Steff.
Sayangnya, Steff belum mau menjelaskan lebih tinggi detil persiapan apa yang tersebut sudah ada dilaksanakan terkait hal itu. Ia semata-mata bilang bahwa jikalau nantinya sudah ada memenuhi ketentuan, bank telah siap melakukan spin off.
Sementara itu, ia menyadari ada beberapa kelebihan serta kekurangan apabila nantinya Maybank perlu menyapih unit syariahnya. Di mana, ketika ini ketika masih di bentuk UUS ada sharing operation yang digunakan jadi kelebihan.
Namun, ketika telah dijalankan spin off, Steff meninjau ada keuntungan bagi Maybank Syariah juga untuk mampu berkembang lebih tinggi besar dibandingkan dengan sekarang. “Tentunya dapat menemukan lingkungan ekonomi yang dimaksud lebih besar besar juga,” tandasnya.











