Energi hijau diyakini bakal mengubah lanskap ketenagalistrikan nasional. FOTO/dok.SindoNews
“RUPTL kali ini tidak hanya berorientasi Ke pemenuhan kebutuhan listrik, tetapi juga meng-create demand, terutama Ke Area Bersama potensi besar yang Di ini belum terwakili, seperti kawasan Indonesia Timur,” ujar Direktur Ilmu Pengetahuan, Engineering, dan Sustainability PLN, Evy Haryadi, Di Kegiatan Sustainability Action for The Future Economy (SAFE) 2025 dikutip Ke Kamis (11/9/2025).
Baca Juga: Indonesia Butuh Dana Jumbo Rp3.000 Triliun Untuk Proyek Listrik Nasional
Di 10 tahun Ke Di, pemerintah menargetkan tambahan kapasitas 69,5 gigawatt (GW). Di angka tersebut, 76% atau 52,9 GW direncanakan bersumber Di energi Terbaru terbarukan (EBT) dan Ilmu Pengetahuan penyimpanan energi. Angka tersebut hampir menyamai kapasitas pembangkit listrik yang telah dibangun Dari Indonesia merdeka atau Di 75 GW. Kendati terkesan ambisius, Wacana RUPTL 2025-2034 dipandang Memiliki nilai strategis.
Tetapi, skala ambisi ini menuntut kejelasan arah permintaan. Evy menekankan bahwa pembentukan demand menjadi strategi utama, terutama Untuk menopang sektor-sektor yang diproyeksikan melonjak tajam konsumsinya. “Misalnya sektor perikanan Ke kawasan timur. Bersama menyiapkan cold storage berbasis listrik, otomatis Berencana memacu Perkembangan ekonomi sekaligus kebutuhan energi Ke sana,” jelasnya.
Artikel ini disadur –> sindonews.com Indonesia News: Energi Hijau, AI, dan EV Karena Itu Mesin Perkembangan Permintaan Listrik











